Kakanwil, Dialog Lintas Agama Merupakan Barometer Kerukunan Umat Beragama

... kakanwil Kemenag Gorontalo, Dr. H. Rusman Langke, M.Pd, menyampaikan arahannya pada kegiatan Dialog Forum Kerukunan Umat Beragama (Lintas Agama), Senin (12/3) kemarin, di Aula Dharma Wanita Kemenag Gorontalo.

GORONTALO, (kemenag.go.id) – Upaya untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Provinsi Gorontalo, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, Dr. H. Rusman Langke, M.Pd, menyampaikan beberapa point penting tentang kesepakatan pemuka agama Indonesia dalam membina kerukunan umat beragama, khususnya kerukunan umat beragama yang ada di Gorontalo, Senin (12/3) kemarin, di Aula Dharma Wanita Kemenag Gorontalo.

Kegiatan yang bertajuk dialog forum kerukunan umat beragama (lintas agama) ini, juga dihadiri langsung oleh Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU), H. Hamka Arbie, S.Ag, dan Kasubag Kerukunan Umat Beragama (KUB), H. Arifin Pakaya, S.Ag, beserta para pemuka agama dan pengurus organisasi kemasyarakatan se-Gorontalo.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih, selama ini masyarakat Gorontalo berpegang teguh kepada Pancasila yang merupakan dasar kehidupan bernegara serta selalu menjaga kerukunan umat beragama yang ada di bumi serambi Madinah ini,” ungkap Kakanwil usai membuka dialog lintas agama.

Lanjut pria yang pernah menjabat Kepala BDK Manado-Surabaya ini mengatakan, dialog lintas agama merupakan barometer dari kerukunan umat beragama.  Sehingganya betapa sangat penting toleransi antar umat beragama di Gorontalo dan bukan hanya terlihat sebagai slogan semata.

Antusias para pemuka agama dan pengurus organisasi kemasyarakatan se-Gorontalo, saat mengikuti Dialog Lintas Agama.

"Soal toleransi ini, tentu bukan persoalan seremoni. Bukan saja hanya kegiatan rutinitas tetapi dimaksudkan agar sikap keberagaman dapat berjalan baik dan daerah ini tetap dalam bingkai persatuan yang benar-benar utuh," ujarnya.

Oleh karena itu, agar kondusivitas hubungan antar masyarakat dapat terus berjalan dengan baik, masyarakat seharusnya bisa menyikapi setiap peristiwa yang terjadi secara bijak dan tidak berperilaku anarkis apabila ada perbedaan keyakinan yang dianut.

Mengenai persoalan Intoleransi yang terjadi di Indonesia, salah satunya karena pemahaman yang dangkal terhadap kitab sucinya sendiri. "Kalau sudah begitu bagaimana bisa memahami kitab suci orang lain. Kalau terjadi kekerasan atas nama agama dan Inilah hal sektoral yang harus kita hindari sedemikian mungkin," katanya.

Hal lain yang disampaikannya juga mengenai masalah Rasionalitas yang dikalahkan oleh emosional. "Kalau merasa besar atau kuat maka yang kecil dan lemah dibabat habis. Ini yang banyak terjadi. Karenanya, kuatkan pemahaman hidup untuk saling berdampingan. Menghargai perbedaan artinya tunduk kepada kehendak yang maha kuasa yaitu Tuhan Yang Maha Esa," jelasnya.

Untuk itu, dengan adanya kegiatan dialog seperti ini, selain sebagai kegiatan silaturahim antar para pemuka agama dan pengurus organisasi kemasyarakatan khususnya yang ada di Gorontalo, dialog ini juga merupakan satu pertemuan untuk saling tukar fikiran antar sesama, sehingga suasana damai dan kondusif dapat dirasakan dalam sebuah kerukunan.

“Dengan adannya kegiatan seperti ini, mudah mudahan kerukunan antar umat beragama yang ada di Gorontalo, selalu terjaga dengan baik,” harap Kakanwil.

Sementara itu, Kasubag KUB, H. Arifin Pakaya, S.Ag mengatakan, dialog ini dilaksanakan tak lain adalah untuk menata kemajemukan dan keberagaman agama yang ada di Gorontalo. Karena perbedaan merupakan rahmat dari Tuhan yang harus dijaga.

“Mari kita bersama untuk terus menjaga kerukunan antar umat beragama dan membangun toleransi yang hakiki di Gorontalo tercinta ini. Karena apabila umat beragama tidak akur, maka tentu Negara ini akan tercerai berai dan hancur,” pungkasnya.(Ayiz)