Kamis, 31 Mei 2012 –
Metode Tamyiz 2 Mulai Digalakan

GORONTALO (Humas) —Setelah pembelajaran Al Qur’an menggunakan metode Tamyiz 1 mulai memasyarakat di Provinsi Gorontalo, kini Kanwil Kementerian Agama Provinsi Gorontalo melalui Satuan Tugas (Satgas) mulai menggalakan pembelajaran menggunakan metode Tamyiz 2. Bimbingan Teknis Metode Cepat dan Mudah Terjemahan Al Qur’an se Provinsi Gorontalo, yang dilaksanakan Bidang Peka Pontren Penamas Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo di Hotel Mutiara, Rabu (30/5), dijadikan momentum mensosialisasikan metode ini.

Kasie Pendidikan Keagamaan dan Salafiyah, H. Syafrudin Baderung, S.Pd, M.Pd didampingi salah seorang anggota Satgas Tamyiz Kanwil Kemenag Prov. Gorontalo, H. Yasrullah Dinar mengatakan, Metode Tamyiz 1 sudah menyentuh hampir merata pada sejumlah daerah di Provinsi Gorontalo. Yang sempat terpantau oleh Tim Satgas sudah sekitar 2.040 orang masyarakat telah belajar Al Qur’an menggunakan metode ini. Belum termasuk para warga belajar yang ada di Mapolda Gorontalo yang sedang berlangsung saat ini. Data ini pun kata Syafrudin Baderung, belum termasuk pembelajaran yang dilaksanakan secara mandiri oleh para alumnus Tamyiz di tempat masing-masing. Dengan pertimbangan inilah kata Syafrudin Baderung, maka Satgas berkesimpulan untuk bisa melangkah ke jenjang lebih tinggi lagi yaitu pembelajaran dengan metode Tamyiz 2. Meski sudah beranjak ke Tamyiz 2 kata mantan Kepala MAN Model Gorontalo ini, metode Tamyiz 1 tetap digalakan.

H. Yasrullah Dinar selaku pengajar sekaligus pencetus metode pembelajaran ini di Gorontalo, menjelaskan, metode Tamyiz 1 sasarannya adalah bisa menterjemahkan Al Qur’an. Sementara untuk Tamyiz 2 ini, para warga belajar diharapkan bisa membaca kitab kuning atau biasa dikenal dengan kitab gundul. Yasrullah pun mengatakan, metode pembelajarannya pun tidak jauh beda dengan Tamyiz 1, tetap mengusung sistem pembelajaran dengan suasana santai dan ringan.

Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Gorontalo, DR. H. Abd. Kadir Ahmad, MS, APU ketika membuka kegiatan Bimtek ini mengungkapkan, dengan pembelajaran menggunakan metode Tamyiz 2 ini, diharapkan para peserta bisa lebih meningkat kemampuannya dalam membaca kitab gundul. “Ibarat pesawat sudah bisa landing, artinya telah tiba di tempat tujuan,” terangnya.

Dihadapan sejumlah guru Pondok Pesantren sebagai peserta pada Bimtek ini, Kakanwil menegaskan, pembelajaran kitab khususnya kitab gundul harus benar-benar digalakan di Pondok Pesantren. Salah satunya bisa menggunakan Metode Tamyiz ini, yang sudah terbukti lebih cepat proses pembelajarannya. Pasalnya kata pria alumni salah satu Pondok Pesantren di Makassar ini, Pesantren jika tidak ada pembelajaran kitab, maka tidak ada beda dengan madrasah. “Pembelajaran kitab inilah sebagai pembeda antara pesantren dengan madrasah,” imbuh Abd. Kadir Ahmad.

Kakanwil optimis, metode Tamyiz ini bisa lebih cepat diserap oleh santri di lingkungan pesantren. Karena barometernya, masyarakat umumnya saja bisa cepat memahami pembelajaran dengan metode ini. Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan sekalipun bisa menyerap pembelajaran metode Tamyiz ini dengan cepat. Bahkan para anggota kepolisian di Mapolda Gorontalo, saat ini sedang giat-giatnya mengikuti pembelajaran Al Qur’an dengan metode ini. Jika pembelajaran ini bisa mengakar di pondok pesantren maka tidak akan memunculkan keraguan masyarakat untuk masuk pesantren. “Sehingga citra pesantren bisa lebih meningkat,” tandasnya. (Sukri)

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.011914 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.72
Jumlah pengunjung: 310377
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.