GORONTALO KEMENAG

TITIP HARAPAN PADA MADRASAH

...

Catatan Kecil Pada Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ) T.P. 2017 - 2018

OLEH     : IRVAN ISMAIL, S.Ag. M.Pd.I
KASI Pendidikan Madrasah Kota Gorontalo

Fenomena yang menarik saat penerimaan peserta didik barudi madrasah, saat membludaknya calon siswa pendaftar dan minimnya yang diterima karena daya tampung rombongan belajar yang tidak mencukupi, maka  terbetik dalam benak saya… “ ada apa dengan madrasah”…??? Saat berbincang dengan orang tua maupun calon peserta didik baru tersebut,  ternyata mereka dari berbagai daerah, orang tua rela berpisah dengan anaknya, sang anak rela meninggalkan kampung halaman dan teman sepermainan,  karena ingin mendapatkan pendidikan yang diselenggarakan di madrasah, kembali muncul pertanyaan…”ada apa dengan madrasah”…???  Melihat antusias orang tuadan anak-anaknya pada hari pertama masuk madrasah, kembali muncul pertanyaan … “ ada apa dengan madrasah”…???  
    

Terbayang…!!!  pada tahun delapan puluh dan sembilan puluhan, ketika saya masuk madrasah,   pada umumnya masyarakat / orang tua saat itu berpendapat bahwa,  madrasah hanyalah lembaga pendidikan yang sekedar fokus  pada pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam saja, atau secara tragis output madrasah hanya disiapkan untuk menjadi tenaga khutbah, imam, pegawai syara’,  penyelenggara jenazah, Pendoa / pemelihara kuburan, serta yang berhubungan dengan agama.

Hal-hal inilah  yang membatasi orang tua ketika itu tidak memasukkan anaknya ke madrasah, atau dengan kata lain, jika ingin  memiliki potensi dalam ilmu pengetahuan umum/ eksakta maupun kejuruan lainnya, bukan madrasah pilihannya. Ada orang tua yang menjadikan madrasah sebagai  alternatif  kesekian atau bahkan terakhir setelah tidak terterima di lembaga pendidikan lainnya,  atau ketika orang tua  tidak mampu lagi menanamkan nilai-nilai keagamaan pada anak-anak mereka, maka pelariannya adalah  madrasah.

Demikian pula jika orang tua tidak mempunyai kemampuan untuk memasukkan anaknya kelembaga pendidikan favorit  karena kondisi keuangan yang sulit/miskin, maka pilihannya pasti adalah madrasah.  Ada juga orang tua berasumsi bahwa  pengetahuan yang didapatkan di madrasah terkadang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang tua di rumah. Artinya terdapat ketidaksinkronan antara pendidikan di madrasah dan pendidikan orang tua. Input yang menjadi siswa/siswi madrasah adalah pada umumnya merupakan mereka yang tidak diterima di sekolah-sekolah negeri atau sekolah favorit.

Tapi saat ini persepsi masyarakat terhadap madrasah semakin baik, image dan pola pikir orang tua  makin berubah,  madrasah  makin diminati, anak-anakpun tidak paksa lagi untuk masuk madrasah, bahkan madrasah menjadi salah satu pilihan dari sekian alternatif pilihan utama untuk mendidik anak.  Hal ini terjadi seiring dengan ketidak puasan masyarakat/orang tua  terhadap kemampuan ilmu pengetahuan yang tidak dapat menselaraskan antara olah otak, olah hati dan olah jiwa, didorong pula dengan  kekhawatiran masyarakat terhadap perkembangan global, disaat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis keagamaan, di saat perdagangan bebas sudah berada di depan mata, persaingan hidup semakin tidak terelakkan,  sistem kehidupan hedonisme menjadi gaya hidup, pergaulan atau sex bebas, penyalahgunaan narkoba, minuman keras, tawuran antar pelajar, kekerasan yang semakin menjadi,  maka keberadaanmadrasah tampaknya makin dibutuhkan.

Tidak berlebihan jika mindset masyarakat dulu dan sekarang mengalami perubahan, karena seiring perubahan zaman serta keberhasilan pendidikan di madrasah itu sendiri. Madrasah sebagai sarana pendidikan yang berciri khas Islam yang menyeimbangkan antara pengetahuan umum dan agama, merupakan tempat terbaik bagi  masyarakat /orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Mereka yakin  putra-putri  yang dititipkan di madrasah, suatu saat kelak menjadi putra-putri yang bisa membanggakan kedua orang tuanya,  lewat pendidikan di madrasah selain menjadi cerdas, juga diharapkan memiliki akhlak yang baik.

Pada saat ini, masyarakat semakin menyadari bahwa setinggi apapun lulusannya tidak selalu mudah untuk mendapatkan pendidikan yang ideal. Akan tetapi, masyarakat tidak mau jika anak mereka tidak mendapat bekal yang  bisa membentuk perilaku atau akhlakul karimah dalam kesehariannya di masyarakat. Maka “ Harapan” orang tua kepada madrasah agar mampu membentuk karakter, membangun perilaku yang bercirikan akhlaq mulia sebagaimana yang tergambar  pada  nilai-nilai Islam. Saat ini masyarakat  semakin mencintai madrasah, mereka manaruh “Harapan” kiranya para pelaku pendidikan, pengambil kebijakan,  serta masyarakat selaku pengguna selalu bergandeng tangan untuk meraih peluang serta menjawab tantangan dalam pelaksanaan pendidikan di madrasah  itu sendiri.

Madrasah telah membuktikan dirinya mampu bertahan serta menjaga eksistensi meski mengalami berbagai tantangan dan  transformasi, madrasah telah memperlihatkan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan nasional yang cukup signifikan,sehingga pemerintah melalui kebijakannya mengeluarkan undang – undang maupun peraturan menempatkan madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang harus dijaga eksistensinya. Pesatnya perkembangan informasi  dan teknologi serta perubahan situasi sosial, politik dan nilai budaya yang semakin bergerak dan mempengaruhi tata nilai  di seluruh   dunia merupakan tantangan bagi madrasah. Madrasah ditantang untuk mengubah atau menata diri menjadi lembaga yang mampu memfilter pengaruh global kemajuan informasi dan teknologi serta  sebagai lembaga yang mampu beradaptasi dengan perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat.

Masyarakat dengan pola pikir yang semakin berubah, menguji dan menantang madrasah dengan mindset yang dilekatkan padanya. Dulu masyarakat menganggap bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan tukang  khutbah dan pendoa kubur sehingga menjadikannya sebagai lembaga alternatif terakhir setelah tidak terterima pada lembaga pendidikan umum lainnya. Sekarang masyarakat sudah membuka diri menerima dan mengakui   madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan Pendidikan Agama Islam ( Aqidah Akhlak, Fiqih, Qur’an Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam dan bahasa arab ) sebagai dasar pembinaan anak untuk menguasai ilmu pengetahuan umum dan eksakta. Maka sangat besar “harapan”  masyarakat dalam hal ini orang tua siswa yang telah memilih madrasah sebagai wadah penempa, pengembleng, pengasuh, pengasah serta pengembang ilmu pengetahun, minat dan bakat yang didasari dengan bekal ilmu agama yang memadai sehingga kedepan anak – anak itu mampu menselaraskan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi    ( IPTEK ) serta Iman dan Takwa ( IMTAK ). (*)