Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan

...

Oleh : Karjianto, S.Pd.I., M.Pd.1
(Penulis adalah Guru Akidah Akhlak dan Ushul Fiqih Pada MAN 2 Kab. Gorontalo
/Wakil Kepala Madrasah Bagian Humas)


“Barangsiapa  beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR. Bukhari).
     

Di era globalisasi saat ini perkembangan informasi dan komunikasi begitu pesat, namun tidak sejalan dengan perkembangan akhlak mulia. Bahkan saat ini telah terjadi kemerosotan akhlak hingga terjadi dekadensi moral. Dekadensi moral adalah penurunan atau kemerosotan moral. Jika diartikan secara bebas dan lebih luas lagi, dekadensi moral adalah kemerosotan atau menurunnya moral pada seseorang yang diakibatkan oleh faktor-faktor tertentu.

Seperti kita ketahui bahwa dewasa ini dekadensi moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia sungguh sangat terasa. Banyak hal kejadian yang diluar dugaan kita terutama di medsos (media sosial), ada sebagian orang yang sering berkata kotor, berkata kasar, sering mencaci memaki, menghina, menghasut, menghujat hingga tega memfitnah dengan tujuan untuk menjatuhkan harga diri seseorang.

Olehnya solusi terbaik untuk mengatasi permasalahan dekandensi moral saat ini, adalah dengan cara meneladani akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, yaitu dengan cara bertindak, bersikap maupun berbicara yang santun dan lemah lembut. Sungguh tepat jika saat ini saudara-saudara kita yang antusias dan penuh semangat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan cara nasional maupun tradisonal. Semua itu dilakukan sebagai salah satu bentuk cinta kepada Nabinya. Walaupun ada sebagian yang tidak sepaham dengan peringatan ini, namun sesama muslim sebaiknya kita saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing.

Dengan sepirit maulid Nabi Muhammad Saw, diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengingat, meneladani, sebagai salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan mengingat kelahirannya maka kita akan diingatkan selalu akan kesantunan dan kelembutan beliau dalam bersikap dan bertutur kata yang baik.

Sumaiyah Muhammad Al-Anshori dalam bukunya menuju akhlak mulia, menceritakan bagaimana kelembutan Rasulullah Saw dalam bertutur kata. Diriwayatkan oleh Muawiyah bin Al-hakam As-Sulaimi Ra, ia berkata, “ ketika aku sedang menunaikan shalat bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba salah seorang jamaah bersin, maka aku mengucapkan, semoga Allah merahmatimu. Orang-orang lalu secara serentak memandangiku, maka akupun berkata, celakalah, mengapa kalian memandangiku? Mereka kemudian menepukkan tanganya ke pangkal paha, agar aku diam, maka akupun diam agar tidak berbicara lagi. Ketika Rasulullah Saw telah selesai shalat, sungguh aku bersumpah, belum pernah aku mendapati seorang guru seperti beliau. Demi Allah beliau tidak membentakku, tidak memukulku dan tidak mencelaku, namun diluar dugaan, beliau bersabada” Sesungguhnya dalam shalat ini tidak dibenarkan sedikitpun berbicara yang diperbolehkan hanya bertasbih, bertakbir dan membaca al-Qur’an (HR. Muslim, 537).

Dalam hadis tersebut tampak jelas betapa Rasulullah saw orang yang sangat lembut dan bertutur kata dengan baik. Beliau tidak membentak, tidak berkata kasar dan tidak memukul. Bagaimana dengan sikap kita dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat, apakah kita sudah berbicara dengan santun dan bertutur kata dengan baik ketika menegur orang lain?. Sudahkah kita berbicara dengan santun saat mengemukakan pendapat, atau memberikan masukan, atau kritikan kepada oranglain saat diforum atau  pada saat rapat? Jangan-jangan karena ego kita, dan merasa sok pintar, sok tahu hingga kita ingin menang sendiri. Apalagi  dengan mudahnya kita mengatakan kata-kata bodoh, tolol dan kata-kata kasar yang keluar dari mulut kita kepada oranglain. Atau mengangap bahwa pendapat kitalah yang paling benar dan pendapat yang lain salah.

Padahal  salah satu ciri orang yang beriman adalah bertutur kata yang baik. Hal ini dinyatakan Rasulullah dalam hadist-nya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam.” (HR. Bukhari). Berbicara yang baik merupakan cerminan akhlak seorang muslim yang membawa kedamaian bagi dirinya maupun oranglain. Bertutur kata yang baik juga dapat diterapkan kepada siapapun terutama kepada orang yang lebih tua dari kita. Kalu kita tidak bisa berbicara dengan baik maka Rasulullah Saw menyarakan untuk diam.

Olehnya berbicara santun dapat kita jadikan amalan untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana sabda beliau dari Abu Syuraih, Ia berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga." Beliau bersabda, "Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik," (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir no. 469). Dengan ampunan dan Rahmat Allah SWT yang akan mengantarkan kita masuk ke dalam Surga.

Selain itu berbicara santun atau bertutur kata yang baik dapat menggantikan sedekah, sebagaimana diriwiyatkan dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Saw, bersabda, "Tutur kata yang baik adalah sedekah," (HR. Ahmad, 2/316). Terkait dengan hadis tersebut Ibnul Qayyim al-Jauziah dalam kita Iddatush Shobirin wa Dzakhirotusy Syakirin mengatakan, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tutur kata yang baik sebagai pengganti dari sedekah bagi yang tidak mampu untuk bersedekah,". (Ibnul Qoyim,109)

Dalam hadis lain terdapat dalam Sohih Bukhari no. 6023 dan Sohih Muslim no. 1016. Rasulullah Saw bersabda "Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik,". Hadis tersebut menjelaskan bahwa jika kita tidak memiliki 10 kurma, atau separuh kurma kita tidak memilikinya maka cukup dengan bertutur kata yang baik.

Dari kepribadian dan akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah Saw., menjadikan daya magnet, daya tarik dan daya pikat yang luar biasa hingga menjadikan ajaran Rasulullah saw mendapatkan perhatian dari pengikutnya. Dengan akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah Saw., ajaran Islam dapat diterima oleh semua kalangan. Kesuksekan Rasullah Saw., dalam menyebarkan Islam menjadi daya tarik sendiri bagi Michel H. Hart, Seorang Ahli Ahli Astronom dan Ahli Sejarah yang  telah menulis dengan judul “The 100” (sertaus Tokoh Besar Dunia). Dengan analisisnya Ia telah menempatkan Nabi Muhammad Saw., sebagai tokoh nomor wahid diantara orang-orang besar di dunia.

Alasan Michel H. Hart, adalah; Ia (Muhammad, Pen) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang dengan cemerlang berhasil mengajarkan ajaran-ajaran keduniawian dan keakhiratan. Memang benar bahwa Islam yang diajarkan Nabi Muhammad Saw., adalah agama yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat (K.H. Firdaus, 2001,184). Michel H. Hart beragama Non Muslim saja mengagumi Nabi Muhammad Saw, sebagai tokoh terbaik Nomor satu didunia. Apalagi dengan kita sebagi umat Rasulullah sudah seharusnya meneladani Akhlak Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian peringatan maulid Nabi Muhammad Saw., bukan hanya sekedar ceremonial saja. Melainkan, kita jadikan semangat meneladani ahlak mulia Rasulullah Saw., dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bertutur kata yang baik, kita pererat persatuan dan kesatuan. Stop, hentikan berkata kotor, berkata kasar, hentikan mencaci maki, hentikan menghina, dan menghasut. Mari sifat buruk yang pernah singgah dalam diri kita, kita bersihkan dengan Istigfar, lalu menggantikannya  dengan Akhlak yang mulia. Menutup tulisan ini KH. Mustofa Bisri atau yang sering disapa Gus Mus berpesan "Dalam mengajak kebaikan, bersikaplah keras kepada diri sendiri dan lemah lembutlah kepada oranglain. Jangan sebalikny,". Semoga bermanfaat. (*)