KETELADANAN DAN CINTA DALAM MENDIDIK

...

Oleh   : Irvan Ismail. S.Ag, M.Pd.I
(Kasi Pendidikan Madrasah Kota Gorontalo)

Betapa bahagianya tatkala saya memantau secara diam-diam salah satu Raudhatul Athfal (RA) di wilayah Kerja Kementerian Agama Kota Gorontalo. Ada hal menarik dan menjadi inspirasi,  terlihat pada saat itu,ketika peserta didik sudah berada di pintu gerbang madrasah, disambut sapaan salam  serta senyuman guru yang sudah menanti kedatangan siswanya,  para guru yang notebene adalah guru honorer itu sebahagian besar  telah hadir, menanti anak didik dengan raut wajah bersinar,mengulurkan tangan yang disambut oleh anak didik sembari menciumnya sambil mengucapkan salam, tanpa dimintapun para guru itu mengusap kepala anak – anak dengan penuh ikhlas…terbetiklah dalam hati ketika itu,  mungkinkah ini yang dikatakan mendidik dengan  hati…??? apakah ini yang dinamakan senyum adalah sedekah…??? Apakah ini yang dinamakan keteladanan…??? Apakah ini pembangunan karakter yang sering digaungkan oleh kalangan pendidik…???? Apakah ini yang namanya amal biasa tapi memberatkan timbangan kebaikan…??? Apakah ini obat mujarab penyembuh nestapa…??? Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran saya ketika itu, baik selaku orang tua maupun pelaku teknis pendidikan,  sebab alangkah indahnya jika setiap lembaga serta para pengemban amanah  pendidikan terutama para guru yang telah mempatrikan dirinya sebagai pejuang mampu memberikan keteladanan, kebesaran jiwa dan menunjukkan kebersihan hatinya untuk mencerdaskan anak – anak bangsa.

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005  guru dan dosen menyebutkan bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945. Selanjutnya pada BAB I  ketentuan Umum Pasal I undang tersebut disebutkan bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan. Melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur formal, pendidikan dasar, dan menengah . dengan ilustrasi  serta penjelasan undang – undang tentang guru dan dosen diatas,  menggmbarkan kepada kita bahwa para pelaku pendidikan dengan kompetensi yang dimilikinya mampu mengedepankan pendidikan dengan keteladanan dan Hati.

Mendidik Dengan Keteladan
 

Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia, segala perilakunya dicontoh dan ditiru, banyak sekali jasa yang sudah diberikan oleh para guru untuk kemajuan bangsa ini, guru yang efektif adalah guru yang menununaikan peran, tugas, dan fungsinya secara profesional, sebagai teladan, guru tidak hanya mengajar (instructor) secara tepat dan efektif, tetapi seyogyanya efektif dalam mendidik (educator), mendidik dengan keteladanan itu lebih efektif dan lebih baik daripada mengajar hanya dengan lisan saja ( Lisan al-hal ashahu min lisan al-maqal ), Guru adalah sumber keteladanan yang tiada henti, yaitu suatu pribadi yang penuh contoh teladan bagi peserta didiknya sampai akhir hayat. Mereka mendambakan seorang guru yang benar – benar bisa diteladani, dicontoh, ditiru, dan tidak punya cacat moral sama sekali. Keteladanan itu tidak hanya penting untuk peserta didiknya, namun lebih  penting bagi dirinya sendiri dan juga untuk mengarahkan dirinya, jadi baik saja tidak cukup, tetapi harus menjadi yang terbaik, baik perkataan maupun perbuatannya.

Hal ini disebabkan guru menjadi orang tua kedua bagi peserta didiknya, guru mewakili orang tua peserta didik disekolah, sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga yang dalam arti luas merupakan keluarga kedua bagi peserta didik, oleh karena itu guru berperan sebagai orang tua kedua bagi peserta didiknya. Dengan kondisi demikian guru perlu berusaha sekuat tenaga agar dapat menjadi teladan yang baik untuk peserta didik dan masyarakat bangsa ini, segala tingkah laku, perbuatan, dan cara bicara guru akan mudah ditiru atau diikuti oleh peserta didik. Oleh karena itu sebagai guru harus mampu mamberi contoh yang baik kepada peserta didiknya.

Sementara itu, sebagai teladan guru harus berusaha membawa perubahan tingkah laku peserta didiknya. Hal ini sejalan dengan “ teaching is the guidance of learning actifities, teaching is for pupose of aiding the pupil learn” yang artinya bahwa mengajar itu memimpin aktivitas atau kegiatan belajar dan bermaksud membantu atau menolong peserta didik dalam belajarnya.Peran tanggung jawab guru sebagai orang tua dan teladan sangat didukung oleh kepribadian  guru itu sendiri. Misalnya guru harus memiliki kejujuran yang tinggi, guru harus memiliki akhlak yang baik, guru harus bersifat pemaaf, guru harus memiliki sikap toleran, dan lain sebagainya. (Aminatul Zahrah "Membangun Kualitas Pembelajaran melalui dimensi Profesionalisme Guru" (Yrama Widya,Cet. I, Bandung, 2015). 

Bertumpu pada beratnya tugas dan tanggung jawab guru selaku pendidik, yang secara gamblang akan merubah generasi ke generasi, maka tidak berlebihan jika para ulama / tokoh Islam dulu sangat berhati-hati dalam memilih guru yang  dipercayakan membina dan membimbing anak- anaknya, Dr. Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam  menjelaskan,  Uqbah Bin Abi Sufyan ketika menyerahkan anaknya kepada seorang pendidik, ia berkata, Hendaklah engkau mulai memperbaiki anakku ini dengan memperbaiki dirimu sendiri, sebab mata mereka itu terikat dengan matamu, yang baik bagi mereka adalah baik bagimu dan jelek bagi mereka adalah jelek bagimu. Ajarkanlah kepada mereka biographi orang – orang bijaksana, akhlak orang terpelajar, dan rasa takut kepada Allah. Didiklah mereka dengan pendidikan selain yang aku berikan, jadilah engkau bagi mereka bagai dokter yang tidak terburu memberikan resep obat sebelum mengetahui penyakitnya. Dan janganlah engkau bersandar kepada sesuatu udzur dariku. Karena aku sudah bersandar kepada kecukupan darimu. (Dr. Abdullah Nasih Ulwan "Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam" ( CV Asy Syifa, Semarang ).

Keteladanan hendaknya diartikan dalam arti luas, yaitu menghargai ucapan, sikap, dan perilaku yang melekat pada pendidik. Jika hal ini telah dilakukan dan dibiasakan dengan baik sejak awal maka akan memiliki arti penting dalam membentuk karakter sebagai guru yang mendidik. Keteladanan dalam pendidikan merupakan pendekatan atau metode yang sangat berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan dan membentuk serta mengembangkan potensi peserta didik.

Ada tiga unsur agar seseorang bisa diteladani atau menjadi teladan, yakni:
1. Kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi. Kesiapan untuk dinilai berarti adanya kesiapan menjadi cermin bagi dirinya maupun orang lain. Kondisi ini akan berdampak pada kehidupan sosial di masyarakat, karena ucapan, sikap, dan perilakunya menjadi sorotan dan teladan.
2. Memiliki kompetensi minimal, seseorang akan dapat menjadi teladan jika memiliki ucapan, sikap, dan perilaku untuk diteladani. Oleh karena itu, kompetensi yang dimaksud adalah kondisi minimal ucapan, sikap, dan perilaku yang harus dimiliki seseorang sehingga dapat dijadikan cermin bagi dirinya maupun orang lain. Demikian juga bagi seorang guru kompetensi minimal sebagai guru, harus dimiliki agar dapat menumbuhkan dan menciptakan keteladanan, terutama bagi peserata didiknya.
3. Memiliki integritas, integritas adalah adanya kesamaan antara ucapan dan tindakan atau satunya kata dan perbuatan. Inti dari integritas terletak pada kualitas istiqomahnya. Sebagai pengejawantahan istiqomah adalah berupa komitmen dan konsistensi terhadap profesi yang diembannya ( Zainal Aqib: 2011).
    

Menurut M. Furqon (2009) dalam Zainal Aqib, pendidik yang dapat diteladani berarti ia dapat juga menjadi cermin orang lain. Cermin secara filosofi memiliki makna sebagai berikut: Pertama, Tempat yang tepat untuk introspeksi, jika kita bercermin maka kita akan melihat potret diri kita sesuai  dengan keadaan yang ada. Sebagai pendidik, kita harus siap menjadi tempat mawas diri, koreksi diri, atau introspeksi. Untuk itu, kita harus siap menjadi curahan hati para siswa kita.Kedua, Menerima dan menampakkan apa adanya, cermin memiliki karakteristik bersedia menerima dan memperlihatkan apa adanya. Hal ini dapat dimaknai sebagai pribadi yang memiliki sifat-sifat, seperti sederhana, jujur, objektif, jernih, dan lain-lain. Ketiga, menerima kapanpun dan dalam keadaan apapun, cermin memiliki karakteristik bersedia menerima kapanpun dan dalam keadaan apapun. Artinya sebagai pendidik harus memiliki sifat-sifat seperti pengabdian, setia, sabar, dan lain-lain.Keempat, tidak pilih kasih/tidak diskriminatif, cermin memiliki sifat tidak pernah pilih-pilih, siapa saja yang mau bercermin pasti diterima. Artinya cermin memiliki sifat tidak pilih kasih, tidak membeda-bedakan, atau tidak pernah diskriminatif. Oleh karena itu, sebagai pendidik harus memiliki jiwa mendidik kepada siapapun tanpa pandang bulu. Semua anak apapun kondisinya harus dididik tanpa kecuali. Bahkan kita tidak dibenarkan memisah-misahkan atau memilih-milih kondisi siswa (exclusive), tetapi kita dalam mendidik harus bersifat inklusif.Kelima, pandai menyimpan rahasia, cermin tidak pernah memperlihatkan siapa yang telah bercermin kepadanya, baik yang bercermin itu kondisinya baik atau buruk. Berarti cermin memiliki sifat pandai menyimpan rahasia. Sebagai pendidik yang pandai menyimpan rahasia berarti ia juga memiliki sifat-sifat, seperti ukhuwah atau persaudaraan, peduli, kebersamaan, tidak menjatuhkan, tidak mempermalukan orang lain, dan lain-lain.
     
Mendidik dengan Cinta

Pendidikan dalam bahasa Arab disebut dengan “tarbiyah”, diantara maknanya yaitu kegiatan yang disertai dengan penuh kasih sayang, kelembutan hati, perhatian, bijak, dan menyenangkan (tidak membosankan) .  Pendidikan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didiknya tidak terbatas oleh ruang dan waktu sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Guru harus dengan tulus dan ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didiknya sepanjang waktu. Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di ruang kelas, dimanapun seorang guru berada, harus sanggup berperan sebagai seorang pendidik yang sejati. Fenomena inilah yang dikhawatirkan redup atau bahkan hilang  ditengah aktifitas pendidikan dinegeri ini, sebab jika hilang suasana  kasih sayang antara guru dengan peserta didiknya, maka akan lahir  sikap guru yang mengedepankan hukuman dari pada senyuman, lebih suka menghardik dari pada bersikap empatik.  Maka yang akan terbangun antara guru dan  peserta didik adalah antipati bukan simpati.

Pada zaman ini, di saat kebanyakan orang selalu mengedepankan emosi, di tengah mewabahnya kekeringan ruhiyah  sosial,  krisis kesantunan dan dekadensi moral, sudah menjadi satu  keniscayaan bagi guru untuk lebih merngutamakan penanaman sikap santun dan keramahan di lingkungan madrasah / sekolah sebagai lembaga rekayasa sosial. Dalam arti bahwa sudah saatnya guru memberikan pembelajaran terhadap  muridnya dengan hati (cinta dan kasih sayang).

Demikian pula, jika mendidikdilandasi  rasa cinta dan suka pada profesi sebagai pendidik dan juga pada peserta didik, maka akan muncul suatu kekuatan (power) yang bersumber dari suara hati yang akan melahirkan berbagai emosi positif seperti kasih sayang, kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, keakraban,  tawakkal serta sikap-sikap positif lainnya dalam berinteraksi dengan para peserta didiknya. Sosok guru yang selalu menebar kasih sayang akan melahirkan sebuah kharisma. Peserta didik akan mencintai guru dengan cara mengidolakannya, serta menempatkannya sebagai sosok yang berwibawa dan disegani. Respon balik dari rasa cinta peserta didik terhadap guru yang mendidik dengan hati bisa terwujud melalui sikap-sikap positif. Misalnya penghormatan, kepatuhan, motivasi belajar, kecintaan terhadap tugas, dan rasa ingin selalu menghargai guru yang dicintainya. Dengan sikap-sikap seperti ini maka siswa akan merasakan bahwa belajar sudah bukan lagi sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan bahkan keasyikan. Maka akan muncul gairah untuk berprestasi di dalam jiwa siswa.

Mendidik bukan hanya sekedar transfer ilmu dan keterampilan semata, melainkan juga tentang penanaman nilai – nilai prinsip dalam hidup dan kehidupan, semua itu bisa  efektif jika disampaikan melalui keteladanan,kelembutan, ikhlas dan penuh cinta  sebagai bukti pendidik sejati, Hakekat mendidik dengan keteladanan dan cinta sesungguhnya untuk memuliakan diri kita sendiri, oleh karena itu kita akan mengutamakan kualitas spiritual, moralitas, intelektual, sosial dan integritas. Karena hidup hanya sekali dan apa pun yang kita lakukan akan dikenang sepanjang masa meskipun kita telah tiada. Aamiin…!!!