REVOLUSI MENTAL ala MADRASAH

...

oleh

Dr. Waris Masuara, M.H.I


Krisis moral dewasa ini tidak hanya melanda masyarakat lapisan bawah (grass root), tetapi juga meracuni atmosfir birokrasi negara mulai dari level paling atas sampai paling bawah. Munculnya fenomena white collar crimes (kejahatan kerah putih atau kejahatan yang dilakukan oleh kaum berdasi, seperti para eksekutif, birokrat, guru, politisi atau yang setingkat dengan mereka), serta isu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh para elit, merupakan indikasi kongrit bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional

Ralitas di atas mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektivitas pendidikan agama yang selama ini dipandang oleh sebagaian besar masyarakat telah gagal dalam membangun afeksi anak didik dengan nilai-nilai yang eternal serta mampu menjawab tantangan zaman yang teruys berubah (aktual).

Maka gerakan demi gerakan untuk mengikis habis mentalitas tersebut terus dilakukan. Sebut saja Revolusi mental sejak empat tahun belakangan ini menjadi ide/trand yang cukup ramai diperbincangkan. Meskipun jauh sebelumnya gagasan tersebut sudah pernah dikumandangkan oleh Bung Karno pada pertengahan tahun 1950-an. Tepatnya di tahun 1957, saat itu revolusi nasional Indonesia sedang ‘mandek. Jadi, Bung Karno-lah pencetus awal gagasan tersebut, dia pula yang mendorong habis-habisan agar konsep ini menjadi aspek penting dalam pelaksanaan dan penuntasan revolusi nasional Indonesia ketika itu. Maka tidak heran, belakang gagasan ‘revolusi mental’kian menggoda banyak orang. Meski sebagian kalangan menilai,  revolusi mental dibutuhkan untuk membabat habis mentalitas, mindset, dan segala bentuk praktik buruk yang sudah mendarah-daging sejak jaman Orde Baru hingga sekarang. Namun, tidak sedikit pula yang mencibir gagasan ini sebagai ‘ide komunistik’. 

Bagi kita revolusi mental, sebagai usaha memperbarui corak berpikir dan bertindak suatu masyarakat berkeadaban jauh dari isu hoaks dan sejenisnya. Revolusi ala seperti ini bisa ditemukan dalam ideologi dan agama manapun. Dalam Islam pun ada gagasan revolusi mental, yakni konsep ‘kembali ke fitrah’: kembali suci atau tanpa dosa. Jadi, gagasan ini bukanlah produk komunis atau ideologi-ideologi yang berafiliasi dengan marxisme

Lalu dimana posisi madrasah dalam merespon “isu revolusi mental saat ini?”

Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Pendidikan Nasional, madrasah telah berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan keislaman, membentuk moral bangsa, dan mencetak kader pemimpin bangsa. Dalam istilah Din Syamsuddin madrasah merupakan lembaga multi-fungsional, sebagai lembaga pengajaran ilmu pengetahuan, lembaga pendidikan moral, dan kawah candradimuka kepemimpinan. Ini artinya madrasah tidak bisa hanya dilihat sebagai lembaga pendidikan agama semata. Tetapi secara kultural madrasah merupakan sub-kultur dari sistem sosial dimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Bagi penulis, madrasah adalahsalih li kulli zamaan wa makaan.Artinya madrasah adalah sebuah pilihan dalam segala dimensi waktu. Madrasah adalah poros revolusi mental. Sejarah mencatat, kegagalan pendidikan pada suatu generasi akan membawa malapetaka bagi generasi berikutnya, sebaliknya keberhasilan pendidikan akan menghasilkan suatu generasi tangguh yang siap menghadapi segala tantangan di masa mendatang. Keguncangan masyarakat bisa terjadi karena sistem pendidikan yang keliru. Pendidikan bukan hanya masalah individu, atau lembaga pendidikan formal, melainkan bagian dari integral yang sedang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, madrasah tidak bisa hanya diartikan formal-institusional, Madrasah tidak boleh dinilai hanya sebagai sebuah ruangan atau gedung tempat anak berkumpul dan mempelajari sejumlah materi pengetahuan. Madrasah harus diartikan sebagai lembaga pendidikan yang terikat suatu norma dan budaya serta sebagai suatu sistem sosial, Kemampuan madrasah membangun suasana akademik-religius yang kondusif akan memberikan iklim bagi lahirnya masyarakat belajar (learning society).  Maka tidak salah bila madrasah pada posisi ini menjadi “idola” dalam kehidupan modern. Di samping itu, sebagai lembaga pendidikan berbasis agama dan memiliki akar budaya yang kokoh di masyarakat, madrasah memiliki basis sosial dan daya tahan yang luar biasa.  Apabila madrasah mendapatkan sentuhan manajemen dan kepemimpinan yang baik niscaya dengan mudah menjadi “idola” masyarakat modern. Madrasah dapat pula dikukuhkan sebagai basis pendidikan karakter bangsa. Memelihara khazanah madrasah tampaknya juga mengandung arti memelihara komponen tafaqahu fii al-addiin.

Bila revolusi mental ala Bung Karno adalah perombakan cara berpikir, cara kerja/berjuang, dan cara hidup agar selaras dengan semangat kemajuan dan tuntutan revolusi nasional. “ini berarti ia merupakan satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala,” Sementara revolusi mental saat ini bisa dimaknai sebagai gerakan merubah mentalitasselalu ingin dilayani, meninggalkan  egosektoral maupun kedaerahan, bekerja cepat, tepat, cerdas, murah, dan mudah.Sedangkan revoluasi mental ala madrasah adalah mencetak generasi yang bermental ketuhanan (rabbaniyah), kemanusiaan (insaniyyah) dan alamiyah.  Dari sinilah madrasah memainkan peran ganda, tidak hanya berkewajiban mencetak generasi yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga berperan sebagai lembaga pendidikan yang menginjeksi nilai-nilai moraldan mampu mencetak generasi berkeadaban tinggi, serta mencetak generasi milenial tanpa hoax. Wallahu ‘alam bisyawa’ 

* Penulis Guru MAN 1 Kota Gorontalo (HP. 085240412378)